Sebuah Jembatan Dan Seribu Harapan (A Bridge And A Thousand Expectations)


Seorang anak sedang berdiri di pinggir sebuah jurang dan anak tersebut memiliki keingintahuan yang besar terhadap hamparan yang sangat luas didepan matanya. Keinginan untuk menyeberang ke sisi lain sebuah ngarai yang dalam, dan lamunannya membayangkan bahwa ada sebuah tempat yang ramai dan terdapat kebahagiaan besar sedang menunggu dia diseberang sana. Tatkala suatu hari sebuah pembangunan sampai ke desanya, anak tersebut sangat senang dan ikut membantu menjadi buruh kasar dalam pembangunan jembatan tersebut meski dia tidak mengerti besaran upah yang dia dapatkan karena dia cukup senang jembatan itu dibangun dan senang berbaur dengan para pekerja yang berasal dari luar dan jauh dari desanya.

A child is standing on the edge of a cliff and has a great curiosity about the vast expanse in front of his eyes. A desire rose to cross a deep canyon to the other side, and his daydreams imagining that there must be a crowded place and great happiness waiting for him across there somewhere. One day when development up to his village, then that child was very happy and gave a hard help as an unskilled laborers on bridge development even though he did not understand the amount of wages he earned because his happiness on bridge development and happy to mingle with workers who come from outside and away from his village.

Jembatan di daerah pedesaan

Tidak ada jembatan yang menghubungkan desa anak kecil tersebut ke tempat lainnya dan orang tua anak tersebut membutuhkan waktu hingga berhari-hari hanya untuk memutar sampai ke seberang untuk urusan barter hasil bumi berupa vanili ke para tengkulak dengan harga yang sangat murah.

There is no bridge that connects the child’s village to other places and the child’s parents toke up to days just to rotate across for affairs on bartering their produce of vanilla to the middlemen at a very cheap price.

Cerita diatas adalah sebuah ilustrasi semata dan memang masih banyak desa di Indonesia yang belum disentuh oleh program pembangunan. Bahkan dilaporkan diberbagai media bahwa ada sejumlah warga termasuk guru dan anak sekolah basah kuyup karena harus menyeberang sungai untuk memulai aktivitas mereka. Anak-anak sekolah yang terpaksa menyeberang sungai saat menuju sekolah tentunya sangat berharap suatu saat akan ada jembatan untuk memudahkan aktivitas mereka. Inilah harapan mereka.

The story above is a mere illustration and indeed there are still many villages in Indonesia that have not been touched by development program. It was even reported in various media that there were a number of residents including teachers and students just like a drowned rat because they had to cross a river to start their activities. Students who were forced to cross the river at the time when going to school and of course they will always hoping that there will be a bridge to facilitate their activities. This is their hope.

 

 

Article by Ketut Rudi

Location East Java

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s