Gambaran Sementara Bakal Calon Pilgub Nusa Tenggara Timur 2018 (Diambil dari berbagai Media)


(English Language is Not Available)

Di media sosial, sudah ramai diperbincangkan siapa bakal calon yang diusung masing-masing partai untuk menjadi calon Gubernur dan wakil gubernur NTT periode mendatang.

Berikut gambaran umum dari masing-masing bakal calon diambil dari beberapa referensi :

balon 2

Viktor Bungtilu Laiskodat (lahir di Kupang, Nusa Tenggara Timur, 17 Februari 1965; umur 52 tahun adalah seorang politikus senior Indonesia yang berasal dari Partai NasDem. Ia terpilih menjadi anggota DPR RI dari Partai NasDem dari daerah pemilihan Nusa Tenggara Timur II pada pemilihan umum legislatif 2014 dan ditunjuk menjadi Ketua Fraksi Partai NasDem DPR RI.

Pendidikan

  • SD Semau Kupang
  • SMPN 1 Kupang
  • SMA PGRI Kupang
  • Sekolah Tinggi Hukum Indonesia

Karier

  • Konsultan Hukum
  • Pengacara di Viktor B. Laiskodat Law Firm
  • Direktur PT Elok Kurnia Sejati
  • Anggota DPR RI dari Partai Golkar 2004-2009
  • Ketua Bidang Pertanian dan Maritim DPP Partai NasDem (2013-2018)
  • Anggota DPR RI dari Partai NasDem 2014-2019
  • Badan Pemenangan Pilpres Jokowi-JK (2014)

Pengalaman Organisasi

  • Wakil Ketua Penasihat Himpunan Advokat Indonesia
  • Ketua Forum Pemuda Kupang Jakarta
  • Pendiri Yayasan Peduli Kasih
  • Pendiri Pesona Boxing Camp

Referensi

(Sumber : Wikipedia)

Viktor Bungtilu Laiskodat secara profesional adalah seorang politikus senior Indonesia yang berasal dari Partai Nasional Demokrat. Ia pernah menjadi konsultan hukum dan juga pengacara di Kantor Hukum miliknya Viktor B Laiskodat Law Firm. Viktor terpilih menjadi anggota DPR RI dari Partai NasDem dari daerah pemilihan Nusa Tenggara Timur II pada pemilihan umum legislatif 2014 dan ditunjuk menjadi Ketua Fraksi Partai NasDem DPR RI.

Saat ini ia menjabat pada Komisi I yang menaungi bidang Pertahanan, Intelijen, Luar Negeri, Komunikasi dan Informatika. Ia merupakan perwakilan dari Fraksi parta Nasdem yang memenangkan Dapil Nusa Tenggara Timur II yang meliputi daerah Kab. Belu, Kab. Kupang, Kab. Rote Ndao, Kab. Sabu Raijua, Kab. Sumba Barat, Kab. Sumba Barat Daya, Kab. Sumba Tengah, Kab. Sumba Timur, Kab. Timor Tengah Selatan, Kab. Timor Tengah Utara, dan Kota Kupang.

Ayah 1 orang anak ini dikenal sebagai pribadi yang tegas dalam ucapan dan tindakan. Namanya bukanlah nama yang asing bagi masyarakat Indonesia, khususnya politisi di Senayan. Pernah menjabat sebagai legislator periode 2004-2009, ia lalu bergabung bersama para inisiator Ormas Nasional Demokrat dan kemudian Partai NasDem untuk membangun bersama partai yang mengusung Gerakan Perubahan Restorasi Indonesia. Viktor merasakan idealismenya menemukan muaranya dalam gagasan yang dibawa oleh Partai NasDem. Jika selama ini kebanyakan politisi ataupun masyarakat awam berpikir bahwa dalam kontestasi pemilu legislatif, senantiasa terjadi perebutan nomor urut di surat suara. Namun tak begitu halnya dengan Viktor. Dari tujuh kursi di NTT II, dengan tujuh nama calon dari partai, Viktor mendapatkan nomor urut terakhir, nomor tujuh.

Bagi Viktor, hal itu bukan sebuah kontestasi, siapa yang mendapatkan nomor urut pertama, tapi ini soal amanah dan tanggung jawab yang diberikan oleh partai kepada dirinya, dengan tujuan untuk membesarkan Partai NasDem, dan mampu mengantarkan partai baru ini duduk di parlemen. Jadi tak heran, jika ia dipercaya oleh Ketua Umum Partai Nasdem, Surya Paloh, untuk menjadi pemimpin politisi Nasdem di Senayan sebagai Ketua Bidang Pertanian & Maritim DPP Partai NasDem.

(Sumber : https://tirto.id)

 

Josef A. Nae Soi lahir di Mataloko/Flores, Nusa Tenggara Timur pada tanggal 22 September 1952. Ia merantau ke Pulau Jawa sejak menjadi mahasiswa di Universitas Atmajaya, Jakarta. Saat ini ia tinggal di Bekasi bersama isti dan kedua anaknya, Alfredo Sebastanus Soi serta Justina Yosefa Mamo Soi. Josef A. Nae Soi adalah salah satu anggota DPR RI dari fraksi Golongan Karya. Saat pemilihan anggota DPR ia berada pada daerah pemilihan Nusa Tenggara Timur 1 yang meliputi Kabupaten Manggarai Barat, Kabupaten Manggarai, Kabupaten Ngada, Kabupaten Ende, Kabupaten Sikka, Kabupaten Flores Timur, Kabupaten Lembata, Kabupaten Alor, Kabupaten Nagekeo, Kabupaten Manggarai Timur. Pada periode 2009 hingga tahun 2014 ini, Josef A. Nae Soi tergabung sebagai anggota komisi V yang menggeluti bidang Perhubungan, Telekomunikasi, Pekerjaan Umum, Perumahan Rakyat, Pembangunan Pedesaan dan Kawasan Tertinggal. Ia berhasil menjadi anggota DPR RI dengan dukungan 53.798 suara.

Politisi yang memiliki filosofi “forterter in re suaviter in mondo” (tegas menuntaskan masalah, ramah dalam penyelesaiannya) ini memulai pendidikan dasar hingga menengah atas di Flores. Kemudian ia sempat menjadi guru SMA, sebelum kemudian hijrah ke Jakarta untuk melanjutkan studi di Universitas Atmajaya. Selepas meraih gelar S1, ia melanjutkan ke jenjang S2 Managemen di Sekolah Tinggi Ilmu Management LPMI Rawamangun-Jakarta.

Perjalanan karier suami dari Maria Fransisca Djogo ini diawali sebagai guru di Sekolah Menengah Atas (SMA) Maumere Flores mulai tahun 1970 hingga tahun 1972. Rekam jejak kehidupannya mulai meningkat pada tahun 1987 saat ia menjadi Dosen Altri Kehakiman Jakarta. Kemudian ia melanjutkan pekerjaannya menjadi Pembantu Direktur III  Altri Kehakiman Jakarta yang dijalaninya mulai tahun 2000 hingga tahun 2005. Karier legislatifnya dimulai di awal periode reformasi, saat ia diajak oleh Akbar Tandjung untuk menjadi seorang politisi di bawah bendera partai Golkar. Josef pun mengubah haluan dari seorang akademisi menjadi politisi. Ia berpendapat bahwa antara dosen politisi memiliki kesamaan dalam mengabdi kepada rakyat. Hanya saja, sebagai seorang politisi ia lebih bisa berbuat langsung saat  menemukan ketidakberesan pemerintah. Josef A. Nae Soi akhirnya terpilih menjadi anggota DPR RI pada periode 2004/2009, yang dilanjutkan hingga sekarang sampai pada tahun 2014.

Josef A. Nae Soi  memiliki banyak pengalaman di bidang organisasi. Ia sempat menjadi sekertaris DPC PKMRI mulai tahun 1974 hingga tahun 1976. Ia juga pernah menjadi ketua umum Koordinator Mahasiswa Universitas Atmajaya mulai tahun 1977 hingga tahun 1979. Selepas kuliah, ia menjadi wakil ketua umum di HILLSI di Jakarta mulai tahun 1992 hingga tahun 2007. Ia juga tercatat sebagai pengurus DPP Partai Golkar dari tahun 1998 hingga pada tahun 2005. Setelah itu ia menjadi Pokja DPP Partai Golkar (sejak 2005).

Saat ini, Josef A. Nae Soi sedang memperjuangkan peningkatan kualitas hidup rakyat NTT. Sebagai putra asli NTT, ia faham betul susahnya mendapatkan akses berupa infrastruktur dan moda transportasi. Karena itu ia berharap agar pemerintah memberikan perhatian yang lebih serius bagi pembangunan jalan-jalan dan bandara di provinsi ini.

Riset Dan Analisa Oleh Siwi P. Rahayu..

 

PENDIDIKAN
  • SR Katholik Mataloko Flores (1963)
  • Ambach Schole Mataloko (1967)
  • SMOA Ende Flores (1967-1969)
  • S1 Jurusan Manajemen, Universitas Atmajaya, Jakarta
  • S2 Managemen Sekolah Tinggi Ilmu Management LPMI Rawamangun, Jakarta
KARIR
  • Guru di  Sekolah Menengah Atas (SMA) Maumere Flores (1970 – 1972)
  • Dosen Altri Kehakiman Jakarta (mulai 1987)
  • Pembantu direktur III  Altri Kehakiman Jakarta (2000 – 2005)
  • Anggota DPR RI Partai Golkar (2004 – 2009)
  • Anggota DPR RI (2009 – 2014) Komisi 5 Fraksi Golongan Karya, Badan Urusan Rumah Tangga
SOCIAL MEDIA
No Sosmed

Balon 1

Marianus Sae dilahirkan di Kampung Bobajo, Kelurahan Mangulewa, Kecamatan Golewa, Ngada, pada tanggal 8 Mei 1962 dari pasangan Bapak Yohanes Da’e (asal Turenaru) dan Ibu Virmina Redo (asal Bobajo). Beliau kemudian diajak oleh salah satu pamannya yang adalah guru sekolah dasar untuk memulai pendidikan sekolah dasar di SDK Bejo hingga Kelas 4, dan menamatkan pendidikannya di SDK Bajawa 1 (1970–1975), dilanjutkan dengan bersekolah pada SMP PGRI Bajawa dari tahun 1976 – 1977. Namun, karena himpitan ekonomi, pendidikan sekolah menengah pertama ini terpaksa dihentikan selama kurang lebih 4 tahun. Selama masa drop-out ini, beliau menjalani berbagai pekerjaan yang bisa dijalaninya saat itu, antara lain sebagai bertani, menjadi joki dalam pacuan kuda, pemborong kendaraan umum (oto), cetak batu bata, dan sebagainya.

Pada tahun 1980, Bapak Yohanes Dae berpulang, dan meninggalkan Marianus dengan perjuangan hidupnya sendiri. Meski dengan segala keterbatasan, keinginan untuk bersekolah tidaklah redup. Dengan upaya sendiri, di tahun 1980 Marianus kembali melanjutkan sekolahnya di SMP PGRI Bajawa hingga tamat di tahun 1982 dan seterusnya bersekolah pada SMA Negeri Bajawa, sambil terus bekerja pada percetakan batu bata (CV Galeta). Meski dengan keterbatasan ekonomi, beliau melanjutkan pendidikan pada Universitas Nusa Cendana, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Jurusan Administrasi Pendidikan di tahun 1985. Pada tahun yang sama, Ibu Virmina Redo berpulang, meninggalkan Marianus sebatang kara. Sambil kuliah, beliau bekerja sebagai buruh proyek bangunan dan sebagai karyawan asuransi untuk membiayai kehidupannya selama kuliah. Di tahun 1988, posisi beliau di Asuransi Bumi Asih Jaya yang semula sebagai pencari nasabah, berubah menjadi Kepala Unit. Namun pada tahun tersebut, menjelang Semester 7, beliau memutuskan untuk menghentikan kuliah untuk mengadu nasib di Denpasar, Bali.

Di Bali, beliau memulai bekerja selaku sales, dan kemudian bekerja sebagai karyawan kecil pada perusahaan cargo Interpec Jasa Tama Semesta yang bergerak di bidang eksport – import, sejak bulan Februari 1989. Pada bulan Februari 1990, beliau diangkat sebagai Kepala Cabang perusahaan cargo tersebut. Pada bulan April 1990, beliau mengundurkan diri dari Interpec Jasa Tama Semesta dan mendirikan perusahaan sendiri; PT. Flobal Express, yang berubah namanya di bulan November 1990 menjadi PT. Mansada Dirgantara. Kesuksesan sebagai Direktur Utama perusahaan eksport – import ini tidak membuatnya terlena dan lupa diri. Kecintaannya atas tanah kelahirannya mendorong beliau untuk kembali dan memberikan kontribusi bagi pembangunan di Ngada melalui pengelolaan dan promosi wisata di Ngada. Untuk itu, di tahun 1994, Marianus bersama investor asal Australia mengelola daerah wisata mata air panas Mengeruda, Soa, di bawah payung PT. Ngada Paradise yang dipimpin olehnya hingga tahun 1996. Sayangnya, investasi ini terkendala akibat kondisi investasi daerah yang tidak kondusif berakibat pada kebangkrutan dan PT Ngada Paradise terpaksa gulung tikar.

Kegigihan Marianus untuk bekerja dan berkreasi dalam berbagai situasi terus teruji. Di tahun 1997, Marianus mengadu nasib di Kalimantan melalui program transmigrasi, di mana di tempat ini beliau membuka peternakan ayam dan karena figur kepemimpinannya, pernah terpilih sebagai kepala desa. Sayangnya, topografi wilayah Desa Sungai Rada, Kabupaten Pontianak tempat beliau bermukim ternyata sangat menyulitkan bagi upaya pengembangan ekonomi. Pada bulan Juli 1998, beliau kembali ke kampung halamannya di Zeu untuk bertani. Di bulan Oktober 1999, beliau kembali ke Denpasar, dan bekerja sebagai buruh las di CV Amanda, dan tinggal di mess karyawan biasa selama kurang dari 3 bulan. Pada bulan Februari 2000, beliau bekerja sebagai tukang las di CV tersebut. Di bulan Mei 2000, Marianus membuka perusahan las sendiri, dan menjadi Direktur Utama CV. Soatri Iron, yang masih berdiri hingga saat ini dan telah mempekerjakan puluhan karyawan. Berbekal keterampilan dan pengetahuannya di bidang eksport–import, CV. Soatri Iron melebarkan sayap bisnisnya ke manca negara.

Di tengah keberhasilannya merintis bisnis produksi dan eksport perabotan dan kerajinan tangan, keinginan beliau untuk membangun dan mempromosikan Ngada tak pernah pupus. Oleh karena itu di tahun 2004 hingga sekarang, bersama rekan-rekan se-visi, beliau mendirikan sebuah perusahaan penerbitan majalah pariwisata Flores Paradise yang intensif melakukan promosi terhadap aset-aset pariwisata di daratan Flores. Majalah ini disebarluaskan ke manca negara melalui biro-biro perjalanan dan hal ini berdampak nyata pada peningkatan jumlah wisatawan asing ke Kabupaten Ngada setiap tahunnya hingga saat ini. Kepeduliannya pada pengembangan pariwisata membuatnya terlibat secara aktif dalam berbagai kegiatan promosi kepariwisataan, termasuk melalui keterlibatannya selaku Ketua Forum Pariwisata Ngada dan Wakil Ketua Bidang Seni, Budaya dan UKM Forum Pariwisata NTT di Bali sejak tahun 2005–2008. Melalui Forum ini beliau diundang ke sejumlah seminar dan lokakarya baik di tingkat lokal maupun nasional guna mempresentasikan pandangan beliau mengenai pembangunan pariwisata yang berpihak pada kepentingan masyarakat setempat.

Sosok Marianus sudah sangat akrab bagi masyarakat Ngada baik yang berada di Bali maupun Ngada. Para penggemar sepak bola Ngada, khususnya yang berada di Bali mengenal beliau sebagai sosok yang berkomitmen tinggi untuk mendukung dan memajukan persepakbolaan Ngada dalam event-event daerah maupun nasional. Mantan pemain sepak bola ini pernah ikut serta dalam klub sepak bola: Tornado (Divisi III) Denpasar pada tahun 1992–1994; Permata Putra (Divisi I) di Tuban pada tahun 1992–1994; dan PSN Ngada (El Tari Cup) di Kupang pada tahun 1995. Selanjutnya beliau menjadi Kepala Pelatih PS Poker di Kerobokan, Kuta, sejak tahun 2001–2003. Dalam posisinya sebagai Wakil Ketua II Bidang Kepemudaan dan Olahraga Ikatan Keluarga Besar Ngada di Bali (periode 2004–2006), beliau membentuk Klub Sepak Bola Bintang Timur di Denpasar yang terdiri dari campuran antara pemain lokal dan asing, untuk mengikuti turnamen sepak bola internasional di Bali. Pecinta olah raga ini tak segan-segan turun langsung dalam pertandingan-pertandingan yang dijalankan oleh anak-anak Ngada dan menyokong tumbuh-kembangnya tunas-tunas baru atlet sepak bola Ngada. Di bidang olah raga, Marianus juga mensponsori pengembangan olahraga berkuda di Ngada.

Upaya mempromosikan dan memberdayakan aset daerah Ngada tidak berhenti di situ. Marianus juga melakukan negosiasi dengan pihak asing untuk memberikan kontribusi bagi pembangunan di daerah kelahirannya ini. Kegagalan membina usaha yang pernah dirasakannya di masa lampau tidaklah menjadi batu sandungan yang membuatnya jera, namun justru memacunya untuk terus berusaha. Oleh karena itu, pada tahun 2007, bersama rekan-rekan bisnisnya, beliau mendirikan PT. Flores Timber Specialist yang berfokus pada usaha pengembangan kayu, yang dilakukan untuk pemberdayaan ekonomi kerakyatan, dan isu global warming. Melalui PT ini, Marianus mendorong dan menyokong masyarakat Ngada untuk mengembangkan usaha kayu sebagai investasi jangka panjang yang akan memberi dampak ekonomi yang besar bagi masyarakat Ngada. Dengan pembiayaan sendiri, beliau menyediakan bibit-bibit pohon kayu berkualitas bagi masyarakat di berbagai wilayah di Ngada. Pengalaman hidup yang dijalaninya sebagai petani membangun pemahaman dan kepeduliannya terhadap masyarakat petani yang hidup dari bertani dan beternak. Oleh karena itu, kegiatan pemberdayaan ekonomi yang lainnya terus dipicu. Sejak tahun 2007 hingga kini, Marianus menggulirkan program PERAK (Pemberdayaan Ekonomi Rakyat) dalam bentuk pengembangan ternak sapi dan babi dengan pola Inti Plasma, di mana masyarakat pedesaan dimodali untuk bisa mengupayakan pengembangan ternak. Kegiatan ini tidak saja dilakukan dengan memberi motivasi, tetapi dengan meneladani kegiatan pengembangan pertanian dan peternakan.

Kontribusi Marianus terhadap pembangunan di Ngada tidak berhenti di situ. Pada tahun 2008, dengan dukungan para pendonor dari Australia, beliau mendirikan sebuah yayasan bernama Flores Village Development Foundation (FVDF), yang mengelola sebuah sekolah gratis bagi anak-anak tidak mampu di daerah terpencil. Sekolah yang bernama: Zeu Christian College ini merupakan sumbangan bagi masyarakat Ngada dari lobby dan negosiasi dengan pihak asing yang dilakukan Marianus bagi kepentingan kaum kecil, yang mengalami kesulitan akses terhadap pendidikan di Ngada. Dukungan pemerintah tentunya sangat penting guna memastikan bahwa akses terhadap pendidikan di daerah terpencil seperti ini bisa dipertahankan dan dikembangkan. Akses terhadap pendidikan yang dulu dengan susah payah beliau dapati ternyata berbekas cukup mendalam baginya, sehingga membangkitkan kepeduliannya terhadap pendidikan. Untuk itu, secara pribadi, beliau telah memberikan bantuan bagi sejumlah sekolah yang mengalami kendala operasional.

Yayasan FVDF tidak saja mengelola fasilitas dan pelayanan pendidikan gratis bagi masyarakat kurang mampu, tetapi juga mengelola layanan akses air bersih di daerah-daerah yang mengalami kesulitan untuk mendapatkan air bersih. Di bulan Januari 2010, proyek sebesar lebih dari 1 milyar dilakukan di daerah Zeu untuk mendatangkan air bersih. Tidak hanya itu, secara pribadi Marianus juga memberikan bantuan bagi daerah-daerah yang membutuhkan akses untuk air minum, antara lain di Desa Ubedolumolo yang secara turun-temurun masyarakatnya hanya bergantung pada air tadah hujan dan sumber mata air yang jaraknya cukup jauh dari daerah pemukiman. Sejumlah desa lainnya telah pula mendapatkan bantuan Marianus terkait akses untuk air bersih.

Dukungan beliau tidak saja dilakukan di bidang pemberdayaan ekonomi kerakyatan, pengembangan pertanian dan peternakan, pariwisata, pendidikan, olah raga dan akses air bersih. Didampingi istri tercinta, Maria Mo’i Keu, sejumlah pihak telah merasakan uluran tangannya bagi orang sakit yang membutuhkan perhatian dan bantuan. Berbagai kontribusi yang diberikan oleh Marianus semata-mata didorong oleh kepeduliannya pada sesama. Keuntungan yang diperolehnya dari kerja keras disumbangkannya bagi keluarga dan masyarakat dengan upaya untuk mendorong kemandirian dan pemberdayaan ekonomi masyarakat. Untuk itu, sejumlah perusahaan maupun yayasan yang dibinanya telah mempekerjakan puluhan hingga ratusan karyawan. Komitmen, kreativitas, dan kerja keras merupakan prinsip hidup yang senantiasa diteladaninya.

Orang-orang terdekatnya mengenal bapak lima anak ini sebagai figur pekerja keras, jujur, rendah hati, dan disiplin. Baik di Bali, Kalimantan, maupun Ngada, beliau dikenal sebagai sosok baik hati yang dekat dengan berbagai kalangan masyarakat. Si penyayang binatang ini tak pernah membeda-bedakan orang berdasarkan kedudukan maupun status dalam pergaulannya. Baik dari kalangan pejabat di tingkat pusat, provinsi, maupun kabupaten hingga petani kecil di pelosok daerah diakrabinya dengan ramah. Hal ini membuatnya menjadi figur yang dicintai banyak pihak karena telah memberikan banyak pertolongan dan motivasi untuk terus belajar dan berkarya. Beliau tak segan-segan berbagi pengalaman pahit dan manisnya di masa lalu guna membangun motivasi bahwa segala sesuatu itu bisa dilakukan jika ada niat dan usaha untuk maju.

(sumber : http://muluscenter.blogspot.co.id)

Ir. Emilia J Nomleni, kartini asal Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) akrab disapa Emi Nomleni aktif dalam kegiatan perpolitikan di TTS.

Sekian lama dalam kancah politik di NTT, khususnya di pilgub, hampir-hampir kita melupakan kaum perempuan. Kesetaraan gender dalam politik atau jabatan publik lainnya terus disuarakan. PDIP seakan menyadarkan kita, agar tidak melupakan kaum perempuan. PDIP adalah partai luar biasa yg tidak membeda-bedakan antara kaum laki dan kaum perempuan. Penetapan ibu Nomleni sebgai salah satu kandidat calon wakil gubernur di NTT di ajang pilgub 2018 adalah sebuah bukti bahwa PDIP adalah partai kader yang menyetarakan semua kadernya sama. Ini juga sebuah pesan buat kaum perempuan untuk tidak takut berpolitik atau menjadi anggota partai politik. Karena berpolitik bukan milik kaum laki saja tapi milik kaum perempuan juga. Ketika UU menjamin hak dipilih dan memilih, dengan suara yang sama maka kaum perempuan juga diberikan kesempatan yang sama – Ana Hallo Account Facebook. ( tidak banyak pemberitaan di media sosial tentang profilenya – akan diupdate selanjutnya)

balon 3

Ir. Eshton L. Foenay, M.Si, diblantikan olahraga NTT dan Indonesia, nama Esthon Leyloh Foenay sudah tidak asing lagi. Aktif sebagai pengurus cabang olahraga, Esthon Foenay sudah dipercaya menjadi Ketua Harian KONI NTT sejak tahun 1998. Kepiawaiannya menata manajemen olahraga di KONI NTT membuat Esthon Foenay terus dipercaya memangku jabatannya hingga saat ini.

Dia memberi bukti atas kepercayaan tersebut. Peningkatan prestasi dari tahun ke tahun atau dari PON ke PON terus tampak. Itu semua tidak terlepas dari strategi pembinaannya dengan memilah-milah cabang prioritas. Esthon pun langsung identik dengan dunia olahraga di NTT. Padahal, dia sebenarnya adalah birokrat tulen.

Tamat strata 1 dari Fakultas Peternakan (Fapet) Undana tahun 1979, Esthon sudah menjadi pegawai negeri sipil (PNS) pada Setda Propinsi NTT sejak tahun 1976. Pengalamannya yang segudang di dunia birokrasi membuat nama Esthon Foenay mencuat kalah dipilih oleh Partai Golongan Karya (Golkar) menjadi calon Gubernur NTT periode 2003-2008. Meski kalah dari pasangan Piet Tallo-Frans Lebu Raya, nama Esthon langsung melejit masuk dalam hitungan orang berpengaruh di NTT.

Sosoknya yang murah senyum, rendah hati, bersahaja, humoris, komunikatif dan cepat akrab dengan semua orang, membuat Esthon Foenay diterima di semua kalangan. Dia disebut sebagai salah satu tokoh NTT yang sangat nasionalis dan moderat. Dia bergaul dengan semua orang, semua lapisan dan golongan, suku dan etni. Padahal, di kalangan orang Timor, dia sendiri berasal dari kalangan ningrat (fetor).

“Semua orang di mata Tuhan tidak ada bedanya. Semua manusia diciptakan dengan talentanya masing-masing dan itu semua sudah ditentukan oleh Tuhan Yang Maha Esa. Yang membedakan manusia mungkin hanya kesempatan dan rezekinya,” kata Esthon Foenay saat ditemui di kediamannya di Sonaf Pola, Oepura-Kupang beberapa waktu lalu.
Resmi pensiun sejak tahun lalu dengan pangkat/golongan IV E, Esthon Foenay yang menamatkan pasca sarjananya dari Unkris Satya Wacana Salatiga dengan spesialisasi Studi Pembangunan kini fokus pada jabatannya sebagai Ketua Harian KONI Propinsi NTT. Ada beberapa pendapat tentang NTT, saran dan kesan saat mengamati proses pembangunan di NTT yang muncul dari Esthon Foenay.

Anda boleh dibilang sangat sukses membina olahraga di NTT. Kiat-kiat apa yang Anda dipakai untuk meraih kesuksesan tersebut?

Kalau indikator penilaian prestasinya adalah perolehan medali di dua PON terakhir, maka bisa dikatakan bahwa prestasi olahraga di NTT mengalami peningkatan yang signifikan. Tapi harus diketahui bahwa prestasi yang dicapai itu bukan serta merta datang dengan sendirinya. Prestasi diukir karena rakyat NTT bersatu. Para atlet dan pelatih berlatih dengan disiplin, pengurus menyiapkan administrasi dan keuangannya, pemerintah mengalokasikan anggaran. Dan yang terutama adalah dukungan dari orangtua terhadap anaknya. Jadi, karena persatuan seluruh masyarakat NTT-lah prestasi itu bisa dicapai. Artinya, tidak benar sepenuhnya seperti pertanyaan tadi bahwa saya yang sukses. Mungkin kebetulan saja saat saya menjadi Ketua Harian KONI atlet kita berprestasi.

Anda bilang mengurus olahraga lebih banyak korban tenaga, waktu, uang dan perasaan daripada keuntungan materilnya. Sebagai birokrat yang dibilang sukses, Anda sebenarnya tidak perlu susah-susah untuk mengurus olahraga. Apa mungkin ada kepuasan tersendiri bagi Anda?

Sama seperti adik sebagai wartawan olahraga yang merasa bahagia ketika melihat para atlet bergembira kalau profilnya ditulis di koran. Coba adik bayangkan, seorang atlet yang tidak pernah pegang uang jutaan rupiah, tiba-tiba dia menerima bonus dengan amplop yang tebal karena bisa menjadi juara. Dia yang sebelumnya tingga di kampung bisa naik pesawat berkeliling Indonesia, bahkan dunia tanpa keluar uang sepeser pun. Para pengurus tidak mendapat bonus seperti mereka, namun yang menjadi kebahagiaan tersendiri adalah karena lewat organisasi yang saya tekuni, seorang atlet bisa berprestasi. Selain itu, saat berbaur dengan para atlet, saya bisa mengetahui dan belajar tentang berbagai karakter manusia.

Selain olahraga, Anda juga terlibat dalam organisasi keagamaan, akademis, kepemudaan dan lainnya. Bisa ceritakan sedikit tentang peran Anda?
Khusus untuk organisasi keagamaan, saya sudah menjadi penatua di Gereja Imanuel Oepura 20 tahun lebih sampai sekarang. Saya juga pernah menjadi Koordinator GMKI Kota Kupang. Selain itu, saya adalah Ketua Pesparawi NTT dan Yayasan Pengembangan Iman Indonesia di NTT sampai sekarang. Khusus untuk Pesparawi, sudah banyak prestasi yang diraih kontingen NTT dalam lomba-lomba tingkat nasional. Untuk bidang akademis, saya sampai saat ini adalah Ketua Yayasan Akademi Teknik Kupang. Saya juga menjadi pengurus Yayasan Unkris Kupang dan banyak lagi. Untuk kepemudaan, kalau mau dirinci sangat banyak, tapi yang pasti saya pernah terlibat di AMPI, KNPI, Orari dan lainnya.

Kalau pengalaman di birokrasi?
Yang jelas sejak saya menjadi pegawai honor tahun 1976 saat masih kuliah, sudah banyak bidang kerja dan jabatan yang saya geluti. Karena jabatan di Biro Binsos, penyusunan program, Bappeda hingga Badan Diklat, saya mengenal banyak karakter manusia mulai dari kelas bahwa hingga atas. Selain itu, saya juga sedikit tahu tentang berbagai bidang kerja dan juga bisa mengelilingi dunia karena pekerjaan yang saya tekuni.

Keliling dunia? Ke mana saja Anda pergi dan apa tugasnya?
Untuk bidang kerohanian, saya mengikuti ziarah religius ke Israel dan Palestina, mengunjungi tempat kelahiran Yesus Kristus, dibaptis, disalibkan, kuburanNya, Taman Getsemani dan situs-situs kerohanian lainnya yang ada di Alkitab. Sementara untuk tugas pemerintahan saya pernah ke Malaysia untuk urusan tenaga kerja, latihan manajemen penanggulangan bencana alam di Australia, presentase hasil bantuan air bersih di Frankfurt-Jerman, seminar internasional di Kagosima-Jepang tentang perlindungan margasatwa langka, Diklat Sandwich di Manhein-Jerman yang merupakan program kerja sama pemerintah Indonesia dan Jerman berupa diklat kejuruan. Selain itu, saya juga melakukan studi banding berbagai bidang pembangunan di Singapura, Belanda, Perancis, Inggris, Vatikan, Roma, Belgia, Swiss, Jerman dan Venisia serta yang lainnya saya sudah lupa. Tapi harus dicatat bahwa semua perjalanan saya adalah resmi ditugaskan oleh pemerintah baik dalam jabatan saya sebagai Kepala Bappeda, Kepala Diklat dan lainnya.

Anda terbilang sebagai salah satu dari sedikit orang yang bisa aktif di semua bidang. Bagaimana Anda membagi waktu untuk menyelesaikan semua pekerjaan tersebut?
Satu yang paling penting adalah disiplin, tanggung jawab dan jangan menunda. Tugas jangan jadi beban bagi kita, tetapi harus dimaknai sebagai berkah. Tidak semua orang bisa dipercaya untuk mengemban sebuah tugas, sehingga setiap kesempatan harus dimanfaatkan dengan baik untuk menyelesaikan semua tugas.

Anda dekat dengan pers, terbukti sering menulis di media-media massa. Apa pentingnya pers bagi Anda?
Di era transparansi seperti ini, tak ada yang perlu ditutup-tutupi. Melalui pers, kita mendekatkan diri dengan dunia dan dunia juga mengetahui kita. Pers adalah media yang sangat praktis untuk promosi pembangunan atau apa saja. Kalau seorang pejabat menjauhi pers, maka sebenarnya dia sedang berbuat sesuatu yang salah. Bagus atau tidaknya program pembangunan dan bagaimana implementasinya di lapangan, semuanya sangat tergantung pada publikasi. Kita tidak mungkin menjangkau semua lapisan masyarakat dalam jangka waktu yang cepat, sehingga peranan pers sekarang ini sangat penting untuk melaksanakan tugas tersebut. Mengenai kebiasaan saya menulis di koran, itu bukan hal baru. Lewat tulisan-tulisan opini di koran, saya bisa langsung menelorkan ide-ide yang ada sehingga diketahui masyarakat. Sebenarnya menulis ini adalah hal biasa, namun budaya menulis yang belum dikembangkan kepada semua lapisan masyarakat.

Anda kelihatannya sangat energik dan selalu tersenyum pada semua hal…
Resepnya sangat sederhana. Awali semua pekerjaan dengan doa, berolahraga secara teratur, atur pola makan yang sehat dan rendah hati terhadap semua orang. Dengan tersenyum kepada semua orang, sedikit beban bisa terbagi. Satu hal lagi yang harus dipegang adalah selalu tersenyum dan memaafkan orang lain meski sudah disakiti. Kita bukan penghakim sehingga harus menaruh dendam, karena semua sudah diatur oleh Tuhan Yang Maha Kuasa.
Dalam Pilgub NTT sekarang, Anda jadi rebutan. Banyak yang melamar Anda, namun Anda lebih memilih Drs. Frans Lebu Raya. Mungkinkah ada konsekuensi dari pilihan Anda?
Saya memilih Pak Frans Lebu Raya karena di sana ada kepastian. Mengurus rakyat bukan untuk coba-coba atau mencari pengalaman. Pak Frans sudah memiliki pengalaman sebagai wakil gubernur. Dia juga memiliki latar belakang politik yang luar biasa. Selain itu, orangnya rendah hati, sehingga ketika ada tawaran untuk mendampinginya menjadi calon wakil gubernur, saya langsung setuju.

Ada motivasi lain?
Bersama Pak Frans, kami ingin bersama rakyat NTT merancang bersama suatu kehidupan yang lebih baik, lebih bermartabat, lebih sejahtera. Sudah terlalu lama NTT ini distigmakan dengan sekian banyak nada minor. Dari begitu banyak aspek kehidupan, kita selalu berada di nomor butut. Saya setuju dengan Pak Frans bahwa kita tidak bodoh, tidak mampu atau juga miskin. Yang kurang dari kita adalah tidak kompak. Pemimpin jalan sendiri, rakyat jalan sendiri. Kami berdua ingin membaktikan diri untuk NTT dengan motto Sehati Sesuara, Membangun NTT Baru.

Ada pendapat ketika masih calon banyak figur yang menebar janji. Setelah jadi pejabat lupa masyarakat. Ada komentar Anda tentang ini?
Orang berpendapat demikian karena mungkin ada pengalaman. Tetapi bersama Pak Frans, kami tidak mau menebar janji yang muluk-muluk. Saya pikir rakyat NTT sudah tahu siapa Frans Lebu Raya dan siapa Esthon Foenay. Jadi, mereka sudah tahu sikap apa yang harus diambil. Kami tidak datang karena kepentingan, tapi masyarakat sudah tahu apa yang sudah pernah kami buat untuk mereka.

Apa obsesi dalam hidup Anda?
Membuat orang lain bahagia. Ketika Anda berbuat sesuatu dan orang lain menikmatinya dengan senyum dan tawa, di situ akan menjadi pahala yang sangat besar nilainya. Mengimingi rakyat dengan peningkatan taraf hidup, pendapatan dan kesejahteraan itu sangat baik. Tapi akan lebih bagus kalau seorang pejabat bisa membuat masyarakatnya selalu tersenyum dalam menapaki kehidupannya. (sipri seko)

(sumber : http://esthon.blogspot.co.id)

Drs. Christian Rotok, Menurut dia, pemimpin harus punya komitmen untuk memperjuangkan nasib dan kepentingan masyarakat yang butuh bantuan dan perbaikan hidup. Bupati Manggarai periode 2005 -2010 dan 2010 – 2015 itu mengaku akan sangat bisa menunaikan tugas pelayanan kepada masyarakat di provinsi itu. “Pak Esthon akan bisa memberikan peran kepada saya untuk bersama-sama melayani masyarakat NTT,” katanya. Dia juga mengaku arus dukungan keluarga terus saja mengalir. “Intinya mendapat dukungan masyarakat dan akan kembali melyani masyarakat secara adil dan merata,” katanya.

( tidak banyak pemberitaan di media sosial tentang profilenya – akan diupdate selanjutnya)

(sumber : https://news.okezone.com)

balon 4

Benny Kabur Harman (lahir di Manggarai, 19 September 1962; umur 55 tahun) merupakan seorang politikus Indonesia dan anggota DPR.

Nama Lengkap : Benny Kabur Harman

Alias : Benny K Harman

Profesi : Politisi

Agama : Katolik

Tempat Lahir : Denge, Satarmese, Manggarai

Tanggal Lahir : Rabu, 19 September 1962

Zodiac : Virgo

Warga Negara : Indonesia
Istri : Drg. Maria Goreti Ernawati Harman (sumber : wikipedia)

BIOGRAFI

Pria yang satu ini memang sekilas terlihat gurat-gurat ketegasan di wajahnya. Ia adalah seorang politikus asal Flores, Nusa Tenggara Timur yang saat ini menduduki posisi sebagai anggota Komisi II DPR RI. Nama Lengkapnya adalah Benny Kabur Harman. Lahir pada 19 September 1962 di sebuah daerah bernama Denge, Manggarai, Flores, Benny terkenal sebagai salah satu politisi Senayan yang tegas, berani, dan loyal terhadap negara.

Benny yang merupakan anggota Fraksi Partai Demokrat semasa kecil mengenyam pendidikan di tanah kelahirannya, Flores. Sejak bangku sekolah dasar hingga sekolah menengah atas ia tak pernah beranjak jauh-jauh dari Flores. Hingga saat ia lulus dari SMA Seminar St. Pius XII Kisol Flores, ia jauh-jauh hijrah ke Malang untuk mengambil studi hukum di Fakultas Hukum Universitas Brawijaya Malang. Sebagai pendatang dari Flores, Benny termasuk mahasiswa yang cerdas dan mampu beradaptasi dengan kondisi sekitar, hingga ia berhasil mendapatkan gelar Sarjana Hukum dari kampus tersebut pada tahun 1987.

Setelah mendapatkan gelar tersebut, Benny memilih untuk mencari pengalaman dengan mencoba memasuki dunia kerja. Barulah setelah merasa cukup memiliki pengalaman kerja, pada tahun 1997 ia memutuskan untuk kuliah program Magister dalam bidang hukum di Fakultas Hukum Universitas Indonesia. Pada masa-masa itu, Benny sudah banyak terlibat dalam proyek dan kegiatan-kegiatan organisasional. Ia tercatat sebagai pendiri sekaligus Direktur Perhimpunan Bantuan Hukum Indonesia (PBHI) mulai tahun 1995 hingga 1998.

Ia juga mendirikan Center for Information and Economic-Law Studies (CINLES) dan juga berposisi sebagai direktur eksekutif. Nama Benny K. Harman pun semakin dikenal setelah ia terpilih menjadi salah satu anggota Komisi II DPR-RI mewakili Partai Demokrat pada Pemilihan Umum 2004. Ia juga sempat berpasangan dengan Alfred M Kase untuk maju sebagai calon Gubernur dan Wakil Gubernur Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) pada 2008. Benny menikah dengan Drg. Maria Goreti Ernawati Harman dan memiliki seorang anak bernama Maria Cacelia Stevi Harman.

Riset dan analisis: Muhammad Nizar Zulmi

PENDIDIKAN
  • SD Katolik Denge Flores, NTT (1977)
  • SMP Tubi Ruteng Flores, NTT (1977)
  • SMA Seminar ST. Pius XII Kisol Flores (1982)
  • Sarjana Hukum di Fakults Hukum Universitas Brawijaya Malang (1987)
  • Magister Hukum di Fakultas Hukum Universitas Indonesia Jakarta (1997)
  • Doktor dari Fakultas Hukum Universitas Indonesia Jakarta (2006)
KARIR
  • Staf Non Litigasi pada kantor YLBHI Jakarta
  • Pendiri Pusat Studi Lingkungan Indonesia (1989-1992)
  • Kepala Divisi Kajian Strategi YLBHI Jakarta (1992-1995)
  • Wartawan bidang hukum dan politik Media Indonesia (1989-1996)
  • Kepala Litbang Harian Media Indonesia (1996-1998)
  • Pendiri dan partner pada kantor k=hukum Nusantara, Harman dan Partner (NHP)
  • Anggota DPR RI NTT I Fraksi Partai Demokrat (2004-sekarang)

( Sumber : https://www.merdeka.com)

Drs. Benny Alexander Litelnoni, SH, M.Si (lahir di Niki-niki, Amanuban Tengah, Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur, 5 Agustus 1956; umur 61 tahun) adalah Wakil Gubernur Nusa Tenggara Timur sejak 16 Juli 2013 yang mendampingi gubernur Frans Lebu Raya. Benny pernah menjabat sebagai Wakil Bupati Timor Tengah Selatan yang mendampingi bupati Paul Victor Roland Mella sejak 6 Maret 2009 hingga 16 Juli 2013.

Riwayat Jabatan

  • CPNS (1 Maret 1980)
  • Pegawai Dinas PMD Kabupaten Timor Tengah Selatan (Maret 1980-Mei 2000)
  • Kepala Bagian  Ketertiban  Setda Kabupaten Timor Tengah Selatan (Mei 2000-Juli 2001)
  • Kepala Kantor Satuan Polisi Pamong Praja Kabupaten Timor Tengah Selatan (Juli 2001-Mei 2004)
  • Kepala Badan Penjenjangan pada Badan DIKLAT Kabupaten Timor Tengah Selatan (Mei 2004-Januari 2006)
  • Kasubdin Postel pada Dinas Perhubungan Kabupaten Timor Tengah Selatan (Januari 2006-2008)
  • Wakil Bupati Timor Tengah Selatan (2009-2013)
  • Wakil Gubernur Nusa Tenggara Timur (2013-2018)

Referensi

Pilkada 2018

Demikian figur masing-masing calon Putera Daerah NTT yang diambil dari berbagai media dan sudah pasti kurang sempurna dan artikel ini sebagai langkah awal untuk mengajak warga NTT bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa serta mengajak untuk menilai lebih bijaksana melalui data bukan hoax dan melancarkan acara pemilihan kedepannya melalui jalur-jalur yang tepat.

 

Merdeka !

Selamat menyongsong hari Natal dan Tahun baru 2018

 

 

Ketut Rudi

(Ide, saran, informasi tambahan kirimkan melalui komentar dan mari kita buka lembaran baru dalam dunia politik di NTT tercinta Indonesia)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s