Takari Lelogama Nusa Tenggara Timur


banner iklan 2

Lelogama adalah kelurahan di kecamatan Amfoang Selatan, Kupang, Nusa Tenggara Timur, Indonesia. Sampai saat ini jalur transportasi ke daerah Amfoang di Nusa Tenggara Timur memakan waktu lama dan bahkan ada yang melewati puluhan sungai. Oleh sebab itu jalan raya yang baik dari kota Kupang hanya sampai Takari dan selanjutnya akan melewati jalan yang sedang dalam pembangunan. Begitu pula kondisi daerah tersebut sepanjang Takari sampai Lelogama belum berlistrik dan pada malam hari hanya terdapat penerangan yang berasal dari lampu pelita, tenaga surya sederhana dan genset.

Lelogama is an urban village in South of Amfoang, Kupang regency, East of Nusa Tenggara, Indonesia. Until now the transportation routes to Amfoang area in East of Nusa Tenggara takes a long time and some even pass through tens of rivers. Therefore, a good condition of road from Kupang city is only available up to Takari and will then pass under development road. Similarly, along  Takari to Lelogama has not been electrified and at night there is only lighting coming from fire of lamps, simple solar power and generator.

oesao

Rice field of Oesao about 30 minutes from Kupang City

Pada saat tiba di desa Takari kurang lebih 1,5 jam perjalanan, maka akan menemukan sebuah pertigaan dengan plang jalan terpampang menuju Lelogama. Dan berikut adalah nama-nama desa yang akan dilewati yang berada dalam wilayah kecamatan Takari adalah : Desa Takari, Desa Benu, Desa Hueknutu, Desa Kauniki, Desa Noelmina,  Desa Oelnaineno, Desa Tanini. Masyarakat menggunakan bahasa daerah “Dawan”.

Upon arriving in the village of Takari approximately 1.5 hours drive, it will find  a signpost  road to Lelogama. And here are the names of villages that passed in Takari district such as: Takari Village, Benu Village, Hueknutu Village, Kauniki Village, Noelmina Village, Oelnaineno Village, Tanini Village. Society uses the local language “Dawan”.

Takari

Traditional Game by Kids of Hueknutu

Tidak mudah untuk mencapai Lelogama, Saya melakukan perjalanan melewati  sejumlah desa  salah satunya  Hueknutu dan desa kauniki dimana dapat dijumpai sebuah gunung batu menjulang tinggi yang disebut dengan gunung Batu Kauniki . Keluar dari kota kabupaten tepatnya dari Takari, dibutuhkan 2-3 jam agar sampai di Lelogama dan beberapa desa masih tergolong cukup terpencil. Awalnya perjalanan lancar dengan jalan beraspal yang bagus dan terawat dengan baik. Tetapi selanjutnya jalan beraspal mulai bergelombang dan beberapa ruas jalan dalam kondisi rusak, berlubang dan banyak bongkahan batu.  Sepanjang jalan yang sepi , hanya ada satu dua mobil yang berpapasan di jalan dan mobil-mobil itu adalah angkutan umum yang melayani transportasi warga menuju Kota.

Not easy to reach Lelogama, I traveled through villages one of them is Hueknutu and kauniki village where there is a towering stone mountain called Gunung Batu Kauniki. Out of the district town precisely from Takari, it takes 2-3 hours to reach Lelogama and some villages are still quite remote. Initially traveling smoothly with nice  and well maintained road . But then the  road starts wavy and some roads are damaged, holes and lots of boulders. Along the lonely road, there are only one or two cars passing by  and the cars are public transportation that serves citizens to the City vise versa.

Road to lelogama2

Road To Gunung Batu Kauniki

Road to lelogama1

Some road is on development

gunung batu kauniki2

Gunung Batu Kauniki

Gunung Batu Kauniki1

Gorgeous Gunung Batu Kauniki

Soal air bersih juga masih menjadi kendala besar ditempat ini tatkala musim hujan maka tempat ini menjadi becek dan susah dilalui namun pada saat musim kemarau tampak hamparan tanah kering dan terdapat beberapa sumur di beberapa perumahan warga namun terasa payau. Sungguh aneh kenapa air terasa payau meski daerah ini berada di ketinggian. Menurut warga, tahun ini sumur warga tidak kering, sehingga beberapa warga tidak harus mencari sumber mata air yang letaknya cukup jauh mencapi 2-3 Km. Keterbatasan akses transportasi, kekurangan air bersih, jaringan listrik yang belum ada membuat daerah ini tentunya sulit untuk berkembang, padahal daerah ini memiliki potensi keindahan alam yang baik.

The availability of clean water becomes a big problem in this place when the rainy season this place becomes muddy and hard to pass but during the dry season looks dry land everywhere and there are some wells in some residential but feels brackish. It’s strange why the water feels brackish even though this area is at altitude. According to the residents, this year the residents’ wells are not dry, so some residents do not have to look for sources of springs that are located far enough  2-3 Km. Limited access on transportation, lack of clean water, electricity network that does not exist to make this area certainly difficult to develop, whereas this area has the potential of good natural beauty.

gunung batu kauniki 4

Banana tree

tikungan 10 lelogama

panoramic along road to Lelogama

gunung batu kauniki 5

wooden fence and traditional house

Sebelum mencapai Lelogama, disambut oleh hamparan hutan di daerah Ampupu dengan suhu udara dingin dan segar karena ketinggian daerah ini. Beberapa pohon jambu biji tumbuh disepanjang jalan dan memetik buah yang sudah masak merupakan aktifitas yang dilakukan oleh siapa saja yang melintasi jalanan menuju Lelogama. Manis dan garing. Rasa buah jambu biji ini. Tentu, masyarakat sudah lebih dulu memetik dan menikmati buah jambu biji yang tumbuh subur di tanah Amfoang ini dan saya memetik secukupnya saja dan beruntung bisa mendapatkannya. Lelogama memiliki panorama alam yang indah dengan suhu dingin yang menyegarkan. Lelogama seperti Bandung di Pulau Jawa

Before reaching Lelogama, greeted by a stretch of forest in  Ampupu area with cool and fresh air temperatures due to  height of this area. Some guava trees grow along the road and picking that fruit is an activity done by anyone who passes the streets to Lelogama. Sweet and crisp is the taste of this guava fruit. Of course, people were already picking and enjoying the  fruit that thrives on this Amfoang land and I just picked it up and was lucky to get it. Lelogama has a beautiful natural panorama with fresh cool temperatures.

lelogama 2

Beautiful Lelogama

gunung lelogama1

Beautiful Landscape and so green this seasson

Lelogama seperti Bandung di Pulau Jaw. Namun jika suatu saat nanti ramai pengunjung, saya berharap tempat ini tetap alami dan jangan pernah merusaknya.

Lelogama just like Bandung in Java Island. But if someday crowded by visitors, I hope this place remains natural and never damage it.

 

Article and Photos by Ketut Rudi

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s