Bahagia itu Sederhana Bagian 2 (Happiness is simple Part 2)

Masalah selalu ada pada setiap sisi hidup dan kehidupan. Katagoi berhasil memang sudah ditetapkan akan tetapi parameter keberhasilan itu beraneka ragam tergantung dari sisi mana menilainya. Pertanyaannya adalah apakah saya sudah berhasil atau belum. Saya akan bercerita berdasarkan sudut pandang saya semoga bisa berbagi cerita.
There always a problem on every type of life and living. Successful criteria have maybe already declared but the parameter of it may varied depending on which side is the point of viewing. The question is whether I am success or not. I will tell you a story based on my point of view and I hope I can share my story.


Saya dilahirkan di sebuah desa kecil dengan kehidupan yang pas-pasan dalam artian rumah yang pas yang mana satu kamar bisa kita gunakan bersama-sama, orang tua yang masih ada sebagai pelindung, kehidupan desa dengan hiburan bermain layang-layang, menangkap kodok atau bermain kelereng dengan anak-anak warga setempat. Sungguh indah rasanya. Bahagia berkumpul dengan kakak-kakak, orang tua dan teman-teman yang ada. Seperti tidak ada masalah dalam hidup pada kehidupan itu. Tidak pernah mau tau daerah luar mungkin menonton berita di TV juga menjadi tidak menarik akan tetapi lebih menarik jika menonton tari-tarian atau layar tancap. Memiliki uang jajan secukupnya sudah merasa aman dan bahagia. Akan tetapi hal yang paling menakutkan apabila melihat raut wajah orang tua yang berbeda dari biasanya. Ada hal yang berbeda seperti berpura-pura didepan kita anak-anaknya. Sebelum tidur orang tua selalu berpesan agar belajar yang rajin agar kelak menjadi orang diluar sana. Saya pada waktu itu masih belum mengerti apa makna “menjadi orang”.
I was born in a small village with a mediocre life which means such the right home where we could use as a room to live together, parents are happy to protect, village life with entertainment such playing a kite, catch a frog or playing marbles with local children. It’s a beautiful life I thought. Was happy hanging out with my brothers, sisters, parents and friends. As there were no problems on my life. I didn’t ever want to know the area outside of my village and even watching the news on TV may also be an unattractive thing to do but more interesting when watching dance or step on the screen. Having a dime for allowance was enough to feel secure and happy. But the most frightening thing when observing parents face looked so different from usual. There were different things I saw as they were pretending in front of their children. Before sleep my parents always advised me to get a seriously  in study to become a better man out there in the future. At that time I still do not understand what the meaning of  “to become a better man“.


Waktu terus bergulir. Satu persatu kakak-kakakku pergi merantau ke luar desa dengan alasan menuntut ilmu untuk masa depan. Sedih rasanya tidur sendiri di dalam kamar. Aku pun berfikir kelak aku akan menyusul kakak-kakakku ke luar desa. Sering ku lihat orang tua kebingungan untuk membiayai kakak-kakaku dan mungkin juga membiayai kita semua. Aku merasakan diriku mulai berubah. Dengan kebutuhan-kebutuhan yang ada mulai bertambah. Mulai lebih nyaman malam hari dengan cahaya lampu, mulai nyaman jika ke sekolah dengan angkot dibandingkan dengan berjalan kaki dan merasa tidak aman dengan uang saku yang ada.
Time keeps rolling. One by one of my brothers and sisters went outside the village for the reasons of studying for a better future. It was hurt to sleep alone in the room. I was thinking one day I would follow my brothers out of the village. Often I saw my  parents confusion to the finance conditions and may also struggling to meet our financial, yes financial of all of us. I felt myself starting to change. With existing needs began to increase. Start the day with a more comfortable night lights, start to feel convenient when going to schools with public transportation better than walking and felt unsafe with the existing allowance.


Sekarang saya sudah mengerti bahwa semakin kita dimanja oleh kehidupan nyaman semakin jauh dari kehidupan bahagia. Rumah sudah semakin besar, mobil dan motor tersedia, tidur dengan suhu yang dihasilkan oleh air conditioner dan lain sebagainya. Saya merasakan masalah memang sudah ada sejak dari dulu tatkala orang tua berpura-pura kepada kita pada saat mereka menghadapi masalah. Meski sudah bergelimpangan harta benda akan tetapi tidur tidak bisa senyenyak waktu dulu. Waktu semakin sempit yang mana tiap harinya hanya menyelesaikan tugas-tugas yang ada dalam list atau daftar pekerjaan di buku saku saya. Makan menjadi tidak enak karena diburu waktu bahkan lupa makan. Perbuatan dosa menjadi gampang dilakukan. Bertemu orang tua atau yang terkasih menjadi sangat susah untuk dilakukan. Sukses dan bahagia itu tidak pernah ada. Mulai saat ini saya berhenti mencari sukses dan bahagia itu karena saya sadar bahwa bahagia itu ada pada waktu saya kecil dulu. Sampai saya merasakan bahwa punya ataupun tidak punya rasanya sama saja.
Now I am already understand that the more we are spoiled by instantaneous and comfort life further away from a happy lifeThe house is getting bigger, cars and motorcycles available, sleeping with the temperature generated by the air conditioner and so forth. I felt the problem was already there since my parents pretended to us when they were facing problems. Despite on a great wealth  but could not sleep well at night like it was. Time felt running so quickly with daily basis  just completing tasks in the list of jobs description in my pocket book. Food and beverages became uncomfortable as pressed by time even forget to have. Sin be easily done. Meet  parents or  beloved one becomes very difficult to do. Successful and happy,  it was never there. From this moment I stopped looking for a successful and happiness that was because I realized that there was happy day found when I was a little boy. Until I feel that wealth or not is having the same taste.

Dan sepertinya lebih baik jaman dulu dibandingkan jaman sekarang. Hal ini mungkin sebuah jawaban kenapa tuhan menciptakan lautan yang cukup luas. Bukan untuk disebrangi melainkan untuk membatasi manusia ke arah moderenisasi. Akan tetapi manusia tetap melakukannya sampai suatu saat bumi mengering dan langit runtuh. Sukses dan bahagia akan saya cari dengan kembali menjadi masa lalu seperti menghangatkan tubuh pada saat dingin dengan membungkus tubuh dengan sehelai kain, makan apabila lapar, atau lakukan segala sesuatu secara sederhana. Sangat susah bukan?
And it seems that past time is better than today or future. This maybe an answer on why God created the wide oceans. Not to sail trough  but to restrict people toward to modernization.  But people still do so until such time the earth dries up and the sky had fallen.  Successful and happy I would search it by looking back again in the past time such warm up during the cold by wrapping  body with a simple cloth, Having food at the time when hungry, or do things simply. It is hard isn’t it?

Ketut Rudi Utama
Models : Putu Rias Utama
Location : Ciater Hot spring Bandung Indonesia

5 thoughts on “Bahagia itu Sederhana Bagian 2 (Happiness is simple Part 2)

  1. Raniasean

    Uang memang bukan segalanya, apalagi untuk membeli kehangatan keluarga. Tetapi jika memiliki banyak uang namun tidak bahagia, berarti salah mempergunakan uangnya 🙂

    1. CV ARISTON KUPANG Post author

      setahu saya orang kaya karena tertib menggunakan uangnya….ada orang kaya tapi tdk bahagia karena maaf impotensi….bisa jadi….ha…ha peace…thanks for your comment


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in: Logo

You are commenting using your account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s