Apa Yang Dapat Merubah Mental Seseorang? (What Can Transform The Frame Of Mind?)


Ada pepatah menyebutkan “Lain ladang lain belalang” . Setelah browsing di google dan membaca beberapa banyak artikel yang menarik aku merasa seperti berada kadang – kadang di dalam semak belukar, kadang kala dibawa ke tengah lautan, atau di hamparan padang pasir yang cukup luas. Bahkan setelah keluar dari dunia maya dan berjalan – jalan di dunia yang nyata masih membekas apa yang telah ku baca.

There is a proverb says “Another field another grasshopper“. After browsing on Google and read some of many interesting articles then I felt like I was  sometimes taken to the bush, sometimes brought to the middle of the ocean, or in to the wide enough desert. Even after coming out from the virtual world and running the real world there is still available the shadow of it’s impression marked from what I have read.

ranting

Buku adalah jendela dunia akan tetapi internet adalah pintunya dunia. Melalui pintu dunia ini kemudian ada beberapa orang pemikir mencoba mengajak orang banyak berjalan – jalan atau seolah -olah diajak berjalan -jalan dan mencoba memberikan pendapat akan perjalanan itu. Hanya melalui pintu dunia ini kita bisa menembus hamparan semak belukar dan gunung kaca yang menjulang. Tulisan mampu merubah mental orang jika orang – orang gemar membaca.

Book is a window of the world but  internet is a door of the world. By the doors of this world then there are some thinkers try to invite people to walk trough this door and the opinions will then gained after walking trough the journey as a result . Only through the doors of this world we could penetrate the expanse of scrub and towering glass of mountain. Posts are able to change the mentality of people as long as people love to read.

Senja

Dikutip dari Blog Joko Widodo

Apa yang mau dibidik oleh ‘Revolusi Mental’ adalah transformasi etos, yaitu perubahan mendasar dalam mentalitas, cara berpikir, cara merasa dan cara mempercayai, yang semuanya menjelma dalam perilaku dan tindakan sehari-hari. Etos ini menyangkut semua bidang kehidupan mulai dari ekonomi, politik, sains-teknologi, seni, agama, dsb. Begitu rupa, sehingga mentalitas bangsa (yang terungkap dalam praktik/kebiasaan sehari hari) lambat-laun berubah. Pengorganisasian, rumusan kebijakan dan pengambilan keputusan diarahkan untuk proses transformasi itu.

Quoted from Joko Widodo Blog

What should be targeted by Mental Revolutionis a transformation of the ethos, the fundamental change in mentality, way of thinking, how to feel and how to trust, all of which are manifested in behavior of daily actions. This ethos involves all areas of life ranging from economic, political, sciencetechnology, art, religion, etc. Such a way that the mentality of the nation (which is revealed in the practices / habits of everyday) gradually changed. Organizing, policy formulation and decision-making transformation process geared for it .

titik air

 

Kantung-kantung Perubahan (Joko Widodo)

  1. Pendidikan di sekolah hanyalah bagian saja dari proses pendidikan warga negara. Padahal kalau sungguh mau dilaksanakan, Revolusi Mental harus menjadi gerakan kolosal berskala nasional. Gerakan itu mencakup masyarakat seluas bangsa agar perilaku sosial setiap individu menjadikan keutamaan warga negara sebagai kebiasaan.
  2. Untuk itu, kita tidak perlu menunggu adanya kebijakan. Silakan memulai dengan membangun kantung-kantung perubahan dan menyusun siasat yang berfokus pada transformasi cara hidup sehari-hari kelompok-kelompok warga negara. Siasat itu melibatkan gerakan rutin dalam bentuk langkah-langkah konkret untuk mengubah kebiasaan-kebiasaan yang punya dampak terhadap terwujudnya kebaikan hidup berbangsa dan bernegara.
  3. Jadi, ‘Revolusi Mental’ bukanlah urusan membikin panggung di mana para selebriti mencari sorak dan puja-puji. Transformasi sejati terjadi dalam kesetiaan bergerak dan menggerakkan perubahan dalam hal-hal yang rutin. Hanya melalui kesetiaan inilah ‘Revolusi Mental’ akan terjadi. ‘Revolusi Mental’ juga tidak akan terjadi hanya dengan khotbah tentang kesadaran moral, serta tidak terjadi dengan pelbagai seminar dan pertunjukan. Semua itu cenderung jadi panggung slogan. Agar ‘Revolusi Mental’ menjadi siasat integral tranformasi kebudayaan, yang dibutuhkan adalah menaruh arti dan praksis kebudayaan ke dalam proses perubahan ragawi menyangkut praktik dan kebiasaan hidup sehari-hari pada lingkup dan skala sebesar bangsa. Arah itu juga merupakan resep bagi masyarakat warga untuk ikut terlibat secara ragawi dalam memulai dan merawat revolusi mental.
  4. Jika pada awal Reformasi kita banyak membicarakan civil society, maka inilah arti civil society yang sebenarnya: civil society adalah gerakan para warga negara (citizens) untuk melaksanakan transformasi secara berkelanjutan bagi pemberadaban hidup bersama yang bernama Indonesia. Itulah ‘Revolusi Mental’.

Pockets of Change (Joko Widodo)

  1. Educations at school  are only part of the process of citizen education. However, if it really to be implemented, Mental Revolution should be a colossal movement nationwide. The movement of the nation covering all of society in order to make the social behavior of each individual citizen as a habit.
  2. For it, we do not need to wait for the policy. Please start with building pockets of change and develop strategy that focuses on transforming the way everyday life of citizens groups. The ploy involves regular movement in the form of concrete steps to change habits that have an impact on the realization of the good life of nation and state.
  3. So, Mental Revolution‘ it is not like concerning to raise a stage where the celebrity look for cheers and praises. True transformation occurs in mobile loyalty and drive changes in routine matters. Only through this loyalty Mental Revolutionwill occur. Mental Revolutionwill not occur just by preaching about the moral consciousness, and does not occur with various seminars and performances. All this tends to be the slogan stage. In order to Mental Revolutionbecame an integral strategy of cultural transformation, what is needed is to put meaning and cultural praxis into the process of physical changes related to the practices and habits of daily life on the scope and scale of the nation. Direction it is also a recipe for civil society to be involved in initiating the physical and mental care for the revolution.
  4. In the early Reformation,  we lot were discussing about civil society, then this is the exact meaning of civil society: civil society is a movement of citizens (citizens) to carry out the transformation on an ongoing basis for living together called civilizing Indonesia. That Mental Revolution‘.

 

 

 

Ketut Rudi Utama

(From Many Sources)

Photos by : Lelly Jeane

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s