Kehidupan Beratapkan Langit “Life open to the sky”


Suatu hari yang cerah, kami menyusuri sebuah jalan setapak yang tampaknya baru diperlebar dan ditingkatkan kualitas jalannya. Akan tetapi jalan itu kemudian mengecil kembali dengan kualitas jalan yang lebih jelek, akan tetapi  bisa dilalui oleh dua kendaraan yang berlawanan arah. Rasa ingin tahu kami pun semakin tinggi dikarenakan oleh jalan yang kita susuri tampaknya mengarah ke tepi pantai dan melewati hutan – hutan kayu yang kering. Cuaca sangat panas tampak langit sangat cerah dan suhu cukup panas. Temperatur menunjukan angka 38 Derajat Celcius sehingga memaksa kami untuk menghidupkan air conditioner di sepanjang perjalanan. Sepanjang jalan kelihatan lengang bahkan sepi, akan tetapi ketika sampai di penghujung jalan kami menemukan perkampungan nelayan yang bernama Tablolong. Diperkampungan ini dapat dijumpai kesibukan para nelayan seperti perbaikan perahu, persiapan untuk melaut, serta menjemur rumput laut. Kehidupan mereka bergantung kepada alam. Jika alam sedang bersahabat, saat itulah kelompok nelayan itu mendapatkan rejeki untuk semua kebutuhan hidup mereka. Bahkan beberapa dari mereka juga merupakan pelaut – pelaut handal yang pernah mengarungi lautan sampai jauh ke pulau – pulau seberang baik untuk angkutan atau untuk menangkap ikan. Ketika kami bertanya apakah ada pengaruh dengan kenaikan harga bahan bakar, mereka menjawab pasti saja semua harga akan ikut berubah. Tapi mereka cukup bahagia tinggal di perkampungan di pinggir pantai yang cukup indah itu. Laut adalah sumber penghasilan mereka dan langit adalah atapnya. Mereka tidak merasakan panasnya sinar matahari itu.

One sunny day, we were down a new road that seems to be widened and improved on its quality. But the road  then shrink back to a poor quality , but it  passed by two vehicles in the opposite direction. Our curiosity even higher due to the traced road was appeared to lead us to the beach and passing through the woods and a dry timber. The weather was very hot with very bright skies and hot enough temperatures. Temperature figures shown 38 Degrees Celsius, was forcing us to turn the air conditioner on all the way. Along the way look deserted even quiet, but when we reached the end of the road we found a fishing village named Tablolong. In that village was found hustle bustle of the fishermen activity such as boat repairing, preparation for fishing, as well as drying seaweed. Their lives depend on nature. If nature is friendly, that’s when a group of fishermen was getting windfall for all the necessities of life. Even some of them also a Taft sailor who ever sailed the seas across the island either for transport or for fishing. When we asked one of them if there was an effect with recent rising of fuel prices, their answer was surely all price will changes. But they are happy to stay in the village on the edge of the beach quite beautiful. The sea is the source of their income and the sky is the roof. They will never feel the heat of the sun.

 

perahu2

perahu1

perahu3

perahu4

perahu5

perahu7

perahu8

perahu9

perahu10

perahu11

 

 

 

 

 

Ketut Rudi Utama

Photo by : Molina Olivia

Location : Tablolong Beach East Nusa Tenggara

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s