Sumba Barat Daya ……..”Terjangkau” (South West of Sumba….”affordable”)


Sumba Barat Daya adalah kabupaten di Provinsi Nusa Tenggara Timur, Indonesia, sebagai sebuah kabupaten baru. Daerah ini terbagi menjadi 11 kecamatan:

  • Kodi Bangedo
  • Kodi Utara
  • kodi Balaghar
  • laura
  • Wewewa Barat
  • Wewewa Selatan
  • Wewewa Timur
  •  Wewewa Tengah
  • Wewewa Utara

Pengembangan listrik kemudian terus dilakukan di kabupaten ini termasuk tenaga surya untuk menjangkau setiap orang yang tinggal jauh dari instalasi dan juga untuk mendukung pasokan listrik dari energi terbarukan.

Southwest Sumba is the regency in East of Nusa Tenggara Province, Indonesia. As a new regency, this area is divided into 11 districts:

  •     Kodi Bangedo
  •     North of Kodi
  •     Kodi Balaghar
  •     Laura
  •     West of Wewewa
  •     South of Wewewa
  •     East of Wewewa
  •     Center  of Wewewa
  •     North of Wewewa

Electricity development then continued to every district including solar power to reach every people who lives far away from the grid and also to support the other power supply.

IMG_3583

Sebagian telah mendapatkan listrik baik energi diesel atau tenaga matahari baik terpasang secara terpusat atau tersebar. Pengembangan tenaga listrik pada akhirnya mencapai dan menerangi rumah-rumah tradisional yang terletak di daerah ini.

Most have got a better electricity either from diesel or solar energy both centralized or distributed. Power development finally has reached and illuminated to traditional houses located in the area.

IMG_3610

Misalnya seperti Desa Kodi Utara, yang di daerah ini dapat ditemukan rumah-rumah tradisional yang memiliki karakteristik yang khas akan dapat diterangi dan diberi pencahayaan yang cukup pada malam hari.

Such example  northern of Kodi village, which is in this area can be found traditional houses that have distinctive characteristics finally reachable by electricity development and given adequate lighting.

IMG_3616

Dana pembangunan berasal dari APBN,  pengeluaran dana ini dikelola melalui unit listrik pedesaan NTT di bawah PT.  PLN (Persero) wilayah NTT . Dan juga dilakukan melalui pemerintah daerah.

Development funding comes from the state budget expanses and revenue, expenditure is managed through rural electrification unit NTT under PT. PLN (Persero) NTT region. And development is also done by local government.

IMG_3617

Sebagian warga Sumba Barat Daya memiliki mata pencaharian di bidang pertanian, peternakan dan perikanan. “Utara desa Kodi” ada ritual yang telah dikenal di dunia yang disebut Pasola. Pasola adalah permainan yang dimainkan oleh warga Sumba Barat untuk merayakan musim tanam padi. Permainan ini dimainkan dengan melemparkan tombak kayu kepada lawan saat mengendarai kuda. Permainan ini dimainkan oleh dua kelompok yang berbeda dari laki-laki dari klan yang berbeda. Ini adalah permainan yang membutuhkan keterampilan tinggi dalam hal berkuda dan  keterampilan melemparkan tombak . Tapi sayangnya hal itu akan digelar pada setiap bulan Februari. Masih ada julukan lain untuk Sumba, kali ini diberikan oleh arkeolog yaitu The Living Megalithic Culture. Bukan sesuatu yang berlebihan karena tradisi megalitik (batu besar) yang muncul sekitar 4500 tahun yang lalu masih dipraktekkan oleh para pengikut setia di pulau ini. Di Sumba Barat bangunan megalitik dapat ditemukan hampir di mana-mana, di setiap desa harus ada dan sangat tradisional, atau dekat desa, di pinggir jalan, bahkan di Kepolisian halaman kantor dan rumah Bupati kantor juga ada. Di Sumba, bangunan megalitik pada umumnya, dihiasi patung batu makam dan relief yang sangat menarik karena warga percaya pada konsep kehidupan setelah kematian, satu keluarga tidak pernah jauh dari kerabat yang telah meninggal dan mempertahankan kedekatan yang telah mereka lalui semasa hidup. Dengan mendirikan tepat tinggal berdekatan dengan kubur batu baik dirumah atau di desa mereka. Rumah adat dan makam batu adalah salah satu bagian yang tidak terpisahkan, rumah sebagai tempat yang hidup dan kuburan sebagai tempat tinggal yang telah meninggal. Kuburan batu selalu dibuat besar dan megah, selain sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur serta refleksi dari kebesaran dan golongan sosial pemilik, sehingga semacam sebuah simbol status dalam masyarakat.

Most livelihood of citizens of Southwest Sumba are farming, herding and fishing.  “North of Kodi village”  there is a ritual that has been known in the world called Pasola. Pasola is a game played by the Western Sumbanese to celebrate the rice planting season. The game is played by throwing wooden spears to the opponent while riding a horse. The game is played by two different groups of men from different clans or tribes. It is a game that requires a high skill at horse riding and spear throwing skill. But unfortunately it will be held on February. There is another nickname for Sumba , given by archaeologists that The Living Megalithic Culture . It is not overdo on it because the megalithic tradition ( large stone ) that appeared about 4500 years ago is still practiced by the faithful followers on this island. In West Sumba megalithic buildings can be found almost everywhere , in every village there must be very traditional one ,or near the village , on the edge of the road , even in Police office yard and home of the office Regent also exist . Sumba megalithic buildings in general, a decorated tomb stone statues and reliefs decorated in almost area, so interesting due to they believe in the concept of life after death , one family  could never far from relatives who have died and to maintain the closeness that they set up right in front of the grave stones of their homes or villages . Custom house and tomb stones are one inseparable package , home as a place for alive and stone grave as a place to stay that has been deceased . Grave stone has always made ​​great and majestic , other than as a form of respect to the ancestors as well as a reflection of the greatness and nobility owner , so a sort of social status symbol as well.

IMG_3611 IMG_3613

Sumba, daerahnya telah terjangkau listrik, mungkin perlu sosialisasi dalam hal pemeliharaan sarana dan prasarana  negara untuk dipertahankan dan sudah pasti biaya listrik yang cukup tinggi agar kiranya mereka  membantu membayar sama seperti warga negara lainnya di Indonesia. Semoga pembangunan ini, mendidik, dan meningkatkan ekonomi masyarakat setempat.

Sumba, affordable by electricity development, it may need socialization in terms of treatment to every state facilities and infrastructure in order to maintain it’s function and it is definitely electricity costs are high enough when require them to help paying the same cost as other citizens in Indonesia. Hopefully this development, educate, and improve the economy of the local people.

By Ketut Rudi Utama

Also from many sources

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s