ARDE / GROUNDING


Cara Membuat Arde/Grounding

Sistem grounding berfungsi sebagai sarana mengalirkan arus petir yang menyebar ke segala arah ke dalam tanah. Hal yang perlu diperhatikan dalam perancangan sistem pentanahan adalah tidak timbulnya bahaya tegangan step dan tegangan sentuh. Kriteria yang dituju dalam pembuatan sistem pentanahan adalah bukannya rendahnya harga tahanan tanah akan tetapi dapat dihindarinya bahaya seperti tersebut di depan. Selain itu, kondisi tanah yang bagus untuk grounding adalah tanah yang basah, atau kolam, atau tanah yang mengandung granit.

Grounding untuk menyalurkan arus listrik imbas dari peralatan elektronik yang anda lindungi dapat dibuat dengan cara membor tanah di tepi kantor anda sampai kedalaman ditemukannya air. Masukanlah pipa ledeng ke dalam lubang tersebut. Dalam mengerjakan pemboran tanah mintalah bantuan kepada tukang pembuat sumur bor yang memiliki perangkat bor tanah yang lengkap.Pasanglah kabel tembaga khusus ground, dengan dibagian ujungnya dipasang terlebih dahulu batang tembaga sepanjang kurang lebih 1 – 1,5 meter. Masukan batang tembaga kedalam lubang sampai dasar lubang. Sisa kabel tembaga yang masih tampak di bagian ujung lubang di permukaan tanah segera dihubungkan dengan kabel ground yang berasal dari ruang kerja anda. Agar ujung kabel ground tersebut tidak goyang ada baiknya ujung lubang ground tersebut ditutup dengan semen, sehingga hanya tampak ujung kabel tembaga saja diatasnya.

Penanggulangan Petir pada Jaringan

Petir terjadi karena adanya benturan antara awan yang bermuatan listrik positif di udara. Kilatan cahaya petir yang mengandung arus listrik sangat kuat tersebut dapat merusak bangunan ataupun peralatan elektronik. Meskipun kilatan petir jatuh didaerah yang agak jauh misalnya 1 km dari kantor anda, arus listrik imbasannya tetap mengalir pada berbagai kabel tembaga seperti kawat penghantar listrik PLN dan kabel telepon.Arus imbas ini meskipun lebih kecil akan tetapi tetap memiliki kemampuan merusak peralatan elektronik anda seperti modem, telepon faximile ataupun komputer dan peralatan jaringan komputer.

Pengenalan Petir
Petir adalah salah satu fenomena alam yang paling kuat dan menghancurkan. Kekuatan petir yang dapat mencapai ribuan ampere sampai 200.000 ampere atau sama dengan daya untuk menyalakan 500 ribu lampu 100W.

Meskipun arus petir hanya sesaat kira-kira selama 200 micro-detik tapi kerusakan yang ditimbulkan sangat luarbiasa. Efek dari serangan langsung sangat jelas terlihat, mulai dari kerusakan bangunan, kebakaran sampai bahaya kematian bagi manusia.

Selain itu pada saat petir menyambar akan ada loncatan muatan listrik ke benda yang bersifat konduktor disekitar pusat hantaman. Loncatan ini bahkan bisa mengalir kemana-mana hingga puluhan kilometer.

Untuk hal tersebut diatas diperlukan sistem penangkal petir yang sangat handal terutama untuk agar perangkat jaringan kita beroperasi dengan aman.

Prinsip Proteksi Petir

Memperhatikan bahaya yang diakibatkan sambaran petir di atas, maka sistem proteksi petir harus mampu melindungi perangkat dari bahaya sambaran langsung (external protection) dan sambaran petir tidak langsung (internal protection) serta penyediaan sistem grounding yang memadai serta terintegrasi dengan baik. Hingga dewasa ini belum ada satupun sistem yang dapat melindungi 100% dari bahaya petir. Tapi, walaupun begitu, usaha proteksi tetap diperlukan.

Prinsip proteksi petir yaitu anti petir harus dapat menyalurkan Petir. Luncuran petir yang telah ditangkap disalurkan ke tanah/arde secara aman tanpa mengakibatkan terjadinya loncatan listrik (imbasan) ke perangkat.

Sistem grounding atau arde harus sebaik mungkin (maksimum tahanan tanah 5 ohm, Tegangan netral maksimum 3V dan tegangan fasa mendekati tegangan aslinya,misal 220 V). Hal ini harus tercapai agar arus petir yang turun dapat sepenuhnya diserapoleh tanah dan menghindari terjadinya step potensial.

Dalam sebuah instalasi jaringan  listrik ada empat bagian yang harus ditanahkan (digroundingkan) atau sering juga disebut dibumikan.
Empat bagian dari instalasi listrik ini adalah :

1. Pada semua bagian instalasi yang terbuat dari logam (menghantar listrik) dan dengan mudah bisa disentuh manusia. Hal ini perlu agar
potensial dari logam yang mudah disentuh manusia selalu sama dengan potensial tanah (bumi) tempat manusia berpijak sehingga tidak
berbahaya bagi manusia yang menyentuhnya.

2. Pada Bagian pembuangan muatan listrik (bagian bawah) dari lightning arrester. Hal ini diperlukan agar lightning arrester dapat berfungsi
dengan baik, yaitu membuang muatan listrik yang diterimanya dari petir ke tanah (bumi) dengan lancar.

3. Pada Kawat petir yang ada pada bagian atas saluran transmisi. Kawat petir ini sesungguhnya juga berfungsi sebagai lightning arrester.
Karena letaknya yang ada di sepanjang saluran transmisi, maka semua kaki tiang transmisi harus ditanahkan agar petir yang menyambar
kawat petir dapat disalurkan ke tanah dengan lancar melalui kaki tiang saluran transmisi.

4. Pada titik netral dari transformator atau titik netral dari generator. Hal ini diperlukan dalam kaitan dengan keperluan proteksi
khususnya yang menyangkut gangguan hubung tanah.

Dalam praktik, diinginkan agar tahanan pentanahan dari titik-titik pentanahan tersebut di atas tidak melebihi 5 Ohm.

Secara teoretis, tahanan dari tanah atau bumi adalah nol karena luas penampang bumi tak terhingga. Tetapi kenyataannya tidak demikian,
artinya tahanan pentanahan nilainya tidak nol. Hal ini terutama disebabkan oleh adanya tahanan kontak antara alat pentanahan dengan
tanah di mana alat tersebut dipasang (dalam tanah).

Komponen Grounding :

1. Batang Grounding  tunggal (single grounding rod).
2. Batang Grounding  ganda (multiple grounding rod). Terdiri dari beberapa
batang tunggal yang dihubungkan paralel.
3. Anyaman Grounding (grounding mesh), merupakan anyaman kawat
tembaga.
4. Pelat Grounding (grounding plate), yaitu pelat tembaga.

Tahanan Grounding selain ditimbulkan oleh tahanan kontak tersebut diatas juga ditimbulkan oleh tahanan sambungan antara grounding dengan kawat penghubungnya. Unsur lain yang menjadi bagian dari tahanan grounding adalah tahanan dari tanah yang ada di sekitar grounding yang menghambat aliran muatan listrik (arus listrik) yang keluar dari grounding tersebut. Arus listrik
yang keluar dari grounding  ini menghadapi bagian-bagian tanah yang berbeda tahanan jenisnya. Untuk jenis tanah yang sama, tahanan jenisnya dipengaruhi oleh kedalamannya. Makin dalam letaknya, umumnya makin kecil tahanan jenisnya, karena komposisinya makin padat dan umumnya juga lebih basah. Oleh karena itu, dalam memasang batang grounding, makin dalam pemasangannya akan makin baik hasilnya dalam arti akan didapat tahanan groundingyang makin rendah.

Grounding / Pembumian yang benar :
|
Grounding / Pembumian yang baik dan benar harus bisa mempunyai nilai tahanan lebih kecil dari 5 Ohm untuk melindungi bangunan dan dibawah 1 Ohm untuk melindungi data. Tidak semua areal bisa mendapat nilai grounding yang baik dan benar, hal ini sangat bergantung oleh berbagai macam aspek seperti :

  • Jumlah Kadar Air : bila air tanah dangkal / penghujan maka nilai tahanan sebaran mudah didapatkan.
  • Jumlah Mineral/garam : kandungan mineral tanah sangat mempengaruhi tahanan karena semakin berlogam maka listrik semakin mudah menghantarkan
  • Tingkat Keasaman : semakin asam PH tanah maka arus listrik semakin mudah menghantarkan
  • Isi Tekstur tanah : untuk daerah yang bertekstur pasir dan porous akan  sulit untuk mendapatkan tahanan yang baik karena untuk jenis tanah ini air dan mineral akan mudah hanyut
Single Grounding :
Yaitu instalasi grounding dengan hanya penancapan satu buah stick arus pelepas ke tanah dengan kedalaman tertentu ( sebaiknya 18 Meter)
Paralel Grounding  :
Bila sistem single masih mendapatkan hasil yang kurang baik ( diatas 1 Ohm ) maka perlu ditambahkan jumlah stick arus pelepas dengan minimal jarak antar stick 5 mtr dan di sambung dengan kedaman masing-masing tetap 18 Meter, hal ini dilakukan berulang sampai menghasilkan nilai tahanan tanah dibawah 1 Ohm
Maximal Grounding  :
Bila pada daerah yang memiliki ciri
1. kering/air tanah dalam
2. kandungan logam sedikit
3. Basa (berkapur)
4. Pasir dan Porous.
biasanya agak sulit untuk mendapat nilai grounding diabwah 1Ohm, dan bila penggunaan 2 cara diatas gagal maka bisa digunakan cara penggantian tanah baru untuk daerah titik grounding tersebut

Dari berbagai sumber

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s